Nada Dasar Pukulan Dewi Persik

Kurang ajar, seorang pemuda berkaos hijau menyolek dada Dewi Persik! Apa sih yang ada dalam pikirannya? Gemas? Karena Dewi Persik seksi? Janda Kembang? Enak aja main colek! Atau ini sudah kejadian biasa, umum, sehingga acara gosip ria tv swasta menyimpulkan, seandainya Dewi Persik mengikuti kata suami, Saiful Jamil yang akhirnya
menceraikannya untuk tidak berbusana
seksi? Wadoh . . . , lha kalau itu terjadi pada anak gadis saya, apapun alasannya, maka bogem mentah saya yang akan melayang ke mata pemuda kurang ajar itu. Ya, tentu saja lebih keras dari tinju Dewi Persik yang reaktif ketika dadanya di gerayangi.

Image Hosted by ImageShack.us
Memang pukulan saya pun tidak sekeras Roy Jones Jr, yang jelas terdengar berdesing dan mampu menjatuhkah dua kali Felix “Tito” Trinidad dalam pertandingan tinju kemarin. Pukulan Dewi Persik pun tidak sekeras Pasha vokalis band Ungu, terbukti si pemuda kurang ajar itu santai2 saja dengan bahasa tubuh tidak jelas, tidak mengaku, tidak sengaja atau minta maaf! Pukulan Pasha Ungu berlanjut ke Meja Hijau hari ini, karena korbannya
sempat mondok, mata lebam, tangan berdarah dan divisum.

Image Hosted by ImageShack.us
Dewi Persik! Ya, apa daya tariknya? Perempuan Jember (saya kira bukan Jember Utara, he3) ini namanya terus berkibar hingga saat ini. Kota ini mengingatkan masa lalu saya yang punya Mbah Kakung Sriadi, lahir di Kediri, tetapi menjadi seorang pendeta di Sidoreno, Kencong, Jember. Mewariskan sekian bau (berapa hektar ya) sawah per orang, kepada 8 orang anaknya! Karena sambilan sebagai petani yang tentu saja mempekerjakan masyarakat sekitar, tidak heran kefasihan berbahasa Madura yang mayoritas digunakan di situ sangat menunjang. Sampai di sini apakah profil Dewi Persik mulai terbayang?

Image Hosted by ImageShack.us
Iya, keberpihakan saya kepada Dewi Persik yang demikian dalam wajar mengundang tanda tanya! Kalau itu semangat solidaritas kedaerahan, malah lebih nyrempet diajeng saya ini atau anak perempuan mbarep saya. Walaupun di saat tertentu dua perempuan Jawa Timur yang hebat ini seolah terlihat berdebat seru sampek ritual ‘gendeng2an’, sebenarnyalah keduanya mempunyai solidaritas yang kuat khas Jatim. Lha wong mereka itu kentel sak pantaran, tapi satu mernah adik, satu mernah anak ke saya, ya nggak masalah, malah buangganya pol saya. Lha kok solidaritas ‘gendeng2an’ ini masih ditambah blogger.jr2, ada yang mernah ‘anak ragil wedhok’, malah ada yang mernah ‘putu mbarep’.

Alasan lain, ya karena Dewi Persik, seperti seniornya Inul Daratista, punya talenta yang perlu diapresiasi! Masak setelah Inul jungkir balik seperti dulu mengatasi kendala non tehnis, Dewi Persik juga harus mulai dari nol? Lha ini perlu aturan tegas, kalau masih ada yang berani tangannya jahil, nggerayangi tubuh seksi, ya langsung ditempiling aja napa? Tapi ya jangan sampek berbahaya berdarah-darah, Dewi Persik telah memberi contoh! Bayangkan banyaknya pelecehan seksual di sekitar kita, jadi selama ini si korban diam saja? Memprihatinkan, menyesatkan dan tangan2 jahil itu terus bergerayangan!

Selain contoh yang sudah diberikan Dewi Persik, lha mbok ya kita kembali ke substansi profesi, kalau showbiz, ya dengar, lihat! Seksi kan bonus, kalau pingin lebih, lha sampeyan kan sudah pada hafal websitenya. Lha kalau perselisihan 3 Diva dengan Erwin Gutawa, ini baru perkara, tapi berkualias! Tiga Diva tidak boleh lagi membawakan lagu dan aransir Erwin. Padahal semua lagu itu ya solmisasi 12 not, wah kalau ada yang bisa mengklaim sebagai pencipta diatonik, bisa kaya raya itu, semua penyanyi harus bayar royalty. Cuman jaman Barok, abad 17 , Vivaldi dan kawan2 sudah menggunakan diatonis, artinya sudah ada yang menentukan not A itu frekuensinya 440 Hz! Siapa ya ilmuwan yang sosial dan rendah hati ini?

Lha kok kita jaman milenia ini masih ada yang moralnya penggerayangan. Wah, kalau seksi berarti boleh digerayangi . . . . hmmmmm, di tempat kerja saya itu mahasiswinya tampil seksi2, lebih hebat dan muda dari Dewi Persik . . . yang senior wisuda terus diganti yang muda2 lagi tiap tahun . . . . hmmmmmmmmmmmm! 

Advertisements

Di Surga, Lagunya Apa Ya Jazzy ?

Image Hosted by ImageShack.usBila ada blogger, anak gadis, punya pertanyaan nakal seperti judul diatas, bayangan saya kuat mengarah pada anak gadis emak ini. Wis jan, pede abis, tulisan-tulisannya seolah dia pernah tinggal di surga aja. Lebih dari itu . .. dia seakan tahu enak gak enaknya di surga. Namanya juga bocah yang mudiknya ke Jepara, tentu ‘mangan ora mangan waton kumpul’nya masih cukup kuat. Apalagi kalau sedang merindukan seseorang, yang sudah di surgapun, diharap datang kumpul!

Obrolan ditengah keyakinan seperti itu, sampai pada kesukaannya pada lagu “Dance With My Father”, dari Luther Vandross! Tidak mengejutkan, jelas jazzy, syairnya melambungkan perasaan kerinduan yang dalam seorang anak kepada bapaknya. Tentu saja sebagai orang tua yang lama merindukan anak gadis, merasa berdosa tak terampunkan bila tidak menuruti maunya anak gadis. Sebenarnya itu masalah kecil,
lha wong tinggal upload. Namun rasa tanggung jawab orang tua cukup mengusik, seberapa bagusnya sih lagu ini?

Banyak persamaan dengan materi bedah lagu saat ini, Tears In Heaven, dari Eric Clapton. Sama-sama lagu kerinduan, sama-sama ada formasi ‘alih nada dasar’, sama-sama Jazzy! Lho . . . Eric Clapton jazzy? ya . . kali ini bukan Eric Clapton yang nyanyi, tapi seorang penyanyi jazzy wanita, juga sengaja biar pada penasaran dan memacu keingin-tahuan para blogger. Lagu ini lebih ditampilkan karena ‘alih nada dasar’ dua kali (genap), itupun yang ke dua untuk kembali pada Nada Dasar awal, jadi dari do = C, do = D#, kembali do = C (penentuan nada dasar do= C semata-mata untuk kemudahan mempelajari, baik dengan piano, keyboard maupun gitar). Sedangkan “Dance With My Father”, nada dasar awal do = A#, ditutup dengan do = C (tidak kembali ke A#, seperti juga rekaman aslinya).

Meski pada masa-masa pertama Eric Clapton terkenal sebagai seorang blueser, namun pada era tahun 90an tampaknya ia mulai banyak mengadaptasi musik pop
ke dalam karya-karyanya. Namun nuansa blues tetap bisa kita dapatkan. Lagu-lagu hits darinya antara lain Layla, Running On Faith, My Father Eyes, Bad Love, Tears In Heaven, Wonderful Tonight, Change The World, Motherless Child, dll. Sepanjang karirnya, Eric telah banyak menghasilkan lagu-lagu yang terkenal, namun dari sekian banyak lagu Eric Clapton, yang paling sering terdengar di radio-radio Indonesia mungkin lagu Tears In Heaven. Lagu itu dibuat untuk mengenang anaknya yang bernama Conor yang jatuh dari lantai 49 apartemennya. Hebatnya lagi, ternyata lagu itu mendapat penghargaan Grammy Awards untuk kategori Best Male Pop Vocal Performance di tahun 1992.

(dikopas dengan edit dari sini, sama kan gaya tulisannya . . . . )

Kopas di atas cuma ingin meyakinkan, bahwa Eric Clapton bukan seorang Jazzer, namun kali ini sampeyan tahu, bahwa jazzy terus tumbuh menemukan bentuk barunya, meyusup kemana-mana! Apakah memang fenomena ini yang mengusik khayalan si anak gadis tentang musik surga . . .
Would you know JAZZY . . If I saw you in heaven? . . .Would you feel the same . . .

Tears in Heaven
(Eric Clapton)

do = C

C                   Em              Am G7 F
3        1      5       5      321
Would you know my name
C                         G G7 C
4  4  3      2   1    3     2
If I saw you in heaven?
Em             Am G7 F
3       1     5    5      321
Would you feel the same
C                         G Am
4  4   3     2   1    3     2
If I saw you in heaven?
E       C7              A
1    1     2       7       6#   6# 1    6
I must be strong and carry on
Dm                      G7                     C
2      3    4     2   2       1  765   32   1   2   1
’cause I know I don’t belong here in heaven…

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
’cause I know I just can’t stay here in heaven…

do=D#
D#             A#             C#m                    F                 A# A#7
3     3      2       2      1          1     6      2       2          7
Time can bring you down, time can bend your knees
D#              A#             C#m                     F              A#                        G G7 C
3       3      2        2       1         1       6     2     2        7          7    2        3
Time can break your heart, have you begging please…begging please

Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven…

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
’cause I know I don’t belong here in heaven…

apakah tulisan dengan foto blogger wanita2 muda, oleh blogger lelaki sedang mem-fenomena . . . setelah di sini dan sini. Makin ideal bila foto blogger lelaki muda juga menjadi bahan tulisan blogger wanita . . . gimana diajeng?! Klo takut sama si anak mbeling ini . . ya cari blogger lelaki muda lainnya . . . sangat banyak, jare simboke arek akeh . . . sebagai blogger.jr . . . mereka akan tumbuh lebih terarah . . .

Blogger Plus (musik)

Secara pengetahuan kita sudah sering mendengar, teori pengenalan musik dini kepada anak-anak, khususnya lagu klasik! Mungkin yang perlu dikritisi, kenapa harus musik klasik?

Maksudnya tentu bukan, kenapa bukan barok? Ini sih masih satu keluarga, lho? Ya lain kali saja kita bicarakan! Banyaknya stigma semacam ini kepada tiap aliran musik, membuat banyaknya kendala untuk memahami musik. Hasilnya dapat dilihat dari ekspresi dan apresiasi para blogger terhadap musik. Pembicaraan, diskusi musik dikalangan blogger selalu saja ramai.

Tanpa bermaksud menyinggung tulisan2 para blogger tentang musik, ujung-ujungnya pemahaman terhadap musik ya itu-itu saja. Walaupun anehnya, bahasan akan dilanjutkan pada kesempatan berikutnya dan tentu saja keramaian berikutnya, dan sekali lagi tentu saja pemahaman musik yang mandeg. Mangsudnya . . . . diskusi hanya meningkatkan kwantitas, bukan kwalitas. Yang berkembang dari Orkes Melayu, ke ndangdut, musik kaum marjinal, rege, cha cha, pop jadul, cengeng, progresip rok, punk, koplo, Koes Plus, Peterpan, Yes, Muse, Matta dst.

Begitu bicara kwalitas musik, biasanya yang menang sih, yang keras kepala dan emosional, subyektip! Padahal sih sebenar semua pihak pecinta musik apapun, sama-sama menang. Entah itu blogger yang ngaku-ngaku senang lagu Genesis dengan irama 32/64, aslinya sih ya teler juga, atau pecinta Ada Band dengan vokal Donny yang kalem, tenang, atau pecinta musik rancak jejingkrakan ala dangdut koplo! Jadi yang kalah sebenarnya adalah mereka yang menyalahkan musik itu sendiri, tanpa mampu menjelaskan salahnya dimana.

Tri Utami kemarin bisa menyalahkan peserta Indonesian Idol, karena jelas ditelinga nadanya melorot. Tetapi emaknya tito bisa juga menyukai nyanyian Fadly Padi, walaupun ditelinga jelas nada suaranya ‘mbliyut’. Karena itu sebaiknya sebelum para blogger membahas kwatitas musik, sepakati dulu kacamata apa yang digunakan. Ya, matra, dimensi musik demikian beragam, padahal dunia gambar baru marak masalah 3D.

Kesimpulannya, semua jenis musik selayaknya dan sepatutnya (fit & proper) dikenalkan sejak dini pada anak-anak. Klasik yang umumnya diatonis itu memang kaya akan formasi, harmoni, mayor, minor (mirip menor), variasinya, masih ditambah dengan nada dasar yang tujuh tambah lima itu ( pada tuts piano 7 putih dan 5 hitam). Namun pentatonik Jawa tidak kalah kayanya, ada pelog, slendro! Justru dengan lima nada itu akan mengisi lembar-lembar (layer) harmoni yang sebenarnya telah dimiliki setiap manusia.

Nah tunggu apa lagi, demikian banyak lembar harmoni pada musik dunia, dan anak yang baru lahir mempunyai lebih banyak lagi lembar-lembar harmoni yang masih kosong! Lembar-lembar diatonis tidak bisa diisi dengan pentatonis, dan ini sama sekali bukan masalah kapasitas memori, tetapi senses of music! Kelak lembar-lembar harmoni ini akan menterjemahkan musik yang didengar, dan kita bisa berbicara kwalitas musik lebih dalam.

Inilah mungkin yang membuat para blogger senior meng upload musik, hanya kasus lain setelah masa kecilnya full music, bloggerblogger junior ini lebih berminat ngomik dan nge-game. Tapi masih ada kok rekaman nyanyinya waktu kecil.

Mus Mujiono : scat singing

Nama Lengkap: Mus Mudjiono
Gitar : Brian Moore
Pengalaman Band : The Hands, Jakarta Power Band, Funk Section
Gaya Permainan : Jazz, Pop, Fusion

Image Hosted by ImageShack.us Teknik Andalan : Scat Singing
Mus Mudjiono merupakan gitaris jazz senior yang telah banyak berkontribusi dalam mempopulerkan musik jazz di Indonesia. Tak hanya bergelut di scene jazz saja, ia juga sering memasukkan karya-karyanya untuk beberapa artis pop. Untuk teknik gitarnya sendiri ia sering memainkan teknik scat singing seperti George Benson dan musisi-musisi jazz. Teknik scat singing sendiri bisa diartikan deengan ‘membunyikan nada-nada yang dimainkan oleh instrumen dengan menggunakan suara mulut’.

Mus Mudjiono yang arek Suroboyo ini dulunya pernah membentuk grup The Hands dan Jakarta Power Band. Di Jakarta Power Band ini ia mengusung musik-musik fusion. Selain itu ia juga telah menelurkan beberapa album solo. Salah satu lagu di album solonya yang paling terkenal adalah Arti Kehidupan yang baru-baru ini didaur ulang oleh gitaris lain, Balawan. Sekitar tahun 1995, ia juga pernah membentuk Funk Section yang juga berisikan Glenn Fredly (sebelum bersolo karir).

Editor: Diaz (neoclassicer @ yahoo.com), http://www.gitaris.com/MusMudjiono.p

*maaf, saya sedikit menunjang kopas, kopi paste. Prinsipnya seperti di Perpustakaan tempat saya mengelola 100 ribuan buku, tiap hari kerja puluhan buku dikopi mahasiswa. Selama itu untuk pegetahuan, kenapa ga boleh? klo sudah komersial seperti dosen yang kurang ajar, kopi buku dijual ke mahasiswanya, baru saya turun tangan ikut menghalangi*

abis dikasih tau si komikus, klo nulis lebih rapi be, yang baca orang2 pinter!

biasa, pendapat emosional, dijawab dengan ngeyel dulu! emang ada blogger yang melek musik?! lha wong yang bisa main musik saja, belum tentu tau solmisasi, apalagi yang dibilang pinter musik, ternyata cuman baca sana sini!

Walaupun sangat diharapkan, sampeyan blogger yang mau terus belajar apapun. Teknik Andalan : Scat Singing, langsung dapat anda nikmati pada intro lagu pertama, Arti Kehidupan. Nah . . . anda semakin memahami jiwa seni musik anda sendiri . . . mengapa menyukai jazzy . . . scat singing hanya salah satu tehnik pemanis musik!

Dah gitu aja? Saya tetap ga tega dengan kawan2 blogger saya, yang masih semangat belajar musik. Tanpa sengaja saya habis mendiskusikan Scat Singing dengan anak perempuan (dah ga ada ya ra?) pengamat gitaris Indonesia ini. Sangat sederhana, modalnya cuman solmisasi!

Tau lagu ‘Burung Kaka Tua’? Nyanyikan dengan kata2 ini :

sol sol . . mi do . . mi re . . . . . mi fa . . la sol . . fa mi

sol sol . . mi do . . mi re . . . . . do si . . sol la . . si do

bagus . . . anda dah jadi blogger yang melek musik, yakin teman anda yang belum baca ini akan berhitung untuk berdiskusi musik dengan anda. Tambah dikit lagi anda bisa bersaing dengan gitaris andal, ambil gitar, petik melodi lagu diatas, bersamaan dengan suara anda. Ganti kata2 dengan du du du du . . . . . . . nah anda dah bisa Scat Singing!



arti kehidupan
abadinya cinta
kesempatan kedua
kunyatakan cinta
lupakanlah
maafkan
satu jam
suara hati
tanda-tanda
yang pertama
. . . the best of . . . . Mus Mujiono . . . . Download