Terima Kasih Cinta, AFGAN

Pernahkah berterima kasih kepada Cinta? Ya, cinta! Tentu Afgan tidak sedang berbicara pada Cinta Laura dalam menyanyikan lagu ini. Lalu siapa Cinta? Pertanyaan2 ini menambah kefenomenalan lagu berirama jazzy ini. Bahwa lagu sefenomenal ini terhitung lambat meledak di blantika musik Indonesia, ya itulah kondisi pasar musik di Indonesia. Sangat sulit dibayangkan panggung musik yang mengusung lagu jazzy akan dibanjiri pengunjung. Mungkin ada yang membantah dengan kenyataan bahwa Java Jazz Festival dibanjiri pengunjung, maka kita perlu melihatnya dari sisi showbiz. Kalau benar maka kawan saya, violist yang sempat hadir pada Pesta Blogger lalu ini nggak perlu pusing tujuh keliling mempromosikan album perdananya. Ya, harus diakui music roadshow baru hanya dilakukan oleh penyanyi2 pop, rock bahkan dangdut.

Lalu apa kelebihannya lagu jazzy dengan judul “Terima Kasih Cinta” ini akhirnya bisa meledak di pasar musik Indonesia? Lha ini kan bentuk lain pertanyaan kita tadi. Kelemahan lagu jazzy ini ternyata dibungkus cantik dengan filosofi cinta, ini tentu menghentak lompatannya mengatasi ledakan lagu pop saat ini, katakanlah d’masive dengan filosofi “cinta ini membunuhku”. Maka benarlah apa yang dikatakan paman, dewa brahmanya blogosphere, akan arti penting filsafat, demikian juga untuk para blogger.

Adalah seorang Venus, dengan sedikit filosofi sebenarnya tidak perlu menjelaskan bahwa dia seorang perempuan, kalau dengan gaya bahasa Sarah “perempuan se perempuan2nya”! Apa filosofinya? Kalau anda orang Jawa, mudah2an masih memahami “sangkanparaning dumadi”, ya sebenarnya sekedar
pengetahuan asal usul, namun paling tidak akan membawa pada pertanyaan, Venus yang mana, blogger? Planet? Dewi? Apakah akan kaget bila dikatakan yang sedang kita cari adalah Venus ibunya Cinta, lho?! Cinta punya ibu? Oh . . . Venus itu ternyata???

Harus diakui, blogosphere menyediakan fasilitas yang mewah bila hanya untuk sekedar sedikit ndobos dengan filsafat. Para bloggernya saja yang masih mencari posisi yang enak untuk ndobos, atau malah sudah terlalu pede dengan tulisan yang tidak jelas asal usulnya. Ya, abad 20 sesudah masehi ini dengan mudah menyeret orang pada pemikiran sempit subyektif. Padahal kalau sedikit saja mau mengetahui ada apa pada 4000 tahun yang lalu, ya abad 20 tapi sebelum masehi, suasananya seperti kita saat ini, ‘ndobos se ndobos2nya’ tentang cinta.

Namun ternyata filosofinya berbeda, ini yang menjadikan ‘cinta’ masa kini demikian rapuh, mencla-mencle, menyeramkan bahkan hingga berdarah-darah, ya Sil! Yunani dan Romawi kuno justru memuja “cinta” bagaikan dewa, lha kok sekarang ‘cinta’ dilihat dari orangnya, manusianya! Kesakralan cinta jadi rusak, lha manusia yang diandalkan apanya coba, mulutnya saja sudah penuh racun yang siap membunuh! Anehnya budaya Jawa sendiri sebenarnya telah mendewakan cinta, sepasang malah,
yaitu Kamajaya dan Kamaratih, harusnya melebihi daripada seorang Venus! Lho? Memang, Venus sendiri dewi cinta, karena itu anaknyapun dewa cinta, yang namanya Cupido. Dalam budaya Yunani kuno, Cupido ini bernama Eros, he3 bukan Mak Erot! Namun filosofi apalagi yang digunakan, sehingga budaya Jawa menentukan bahwa sepasang dewa cintanya adalah dua2nya yang bisa mati. Lebih jauh konon Kamajaya adalah anak Semar! Hlah . . .cari, baca dan berfilsafatlah sendiri, lebih asik!

Paling tidak apa yang dilakukan cahandong sudah benar searah dengan budaya Jawa, dengan mendewakan Trimaskenthir! Awalnya mungkin kesulitan, blogger senior mana yang mau didewakan sebagai Syiwa? Itu sudah tepat bila dikenakan pada adik saya si Ndroro Bedhes, ya bukan karena bedhesnya, tetapi memang jarang yang tahu bahwa dalam pewayangan, Bathara Guru itu adalah Syiwa, pantaskan kalau sering blusukan ke kampus.

Akan halnya Afgan Syah Reza, mahasiswa FEUI, sebagai penyanyi jazzy yang baru genap 19 tahun Mei mendatang, saya tidak banyak berfilosofi. Cukup ikuti hebohnya Tyas Mirasih yang dulu pacarnya Lembu , trus Raffi Ahmad , Bams Samsons, Ricky Harun , dan sekarang mentarget Afgan! Silakan berfilosofi sendiri, he3!

Terima Kasih Cinta” sendiri mempunyai daya ledak yang kuat, walaupun jazzy. Sedikit saja, coba lagukan kata pertama, tersadar . ., notasi = 5 1 2 . . , solmisasi = sol do re . . , alto = mi sol si . . ., sampai disini teringat lagu ‘firasat’nya Marcell dengan kata awal = kemarin? Bukan, ini bukan masalah plagiat, justru akan tersesat bila mengikuti lagu ‘firasat’. Maka disini saya buat alto = mi sol se . . , isi chord Fm memang = 5# 1 3, tidak ada not 7 (si) ya . . . . . selamat berjazzy . . . . 😛

Terima Kasih Cinta, AFGAN

Do = C
Intro: C – Fm – Am – F – G – C

C – – Fm – Am – – – – – – F
Tersadar didalam sepiku

– – – – – – Dm
Setelah jauh melangkah

– F – – – – – – -Em – – – Am
Cahaya kasihmu menuntunku

– -Dm – – – – A# – – – – G7
Kembali dalam dekap tanganmu

Reff :

– – F – – – – – Fm
Terima kasih cinta

– Em – – – -Am
Untuk segalanya

– – Dm – – – -G7 – -C – – – – C7
Kau berikan lagi kesempatan itu

– – – – F – – – – – Fm
Tak akan terulang lagi

– -Em – -A – – -Dm
Semua a a a… kesalahanku

– – F – – – – – Fm – C
Yang pernah menyakitimu

Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu

Reff :

Terima kasih cinta
Untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua a a a… kesalahanku

Oo ho oho ouuww…

Wouuww

Interlude

Reff :

Terima kasih cinta
Untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua a a a kesalahanku woo uwoo
Kesalahanku
Yang pernah menyakitimu

Wanita Racun Dunia! . . . . haa?

Judul lagu dari The Changcuters ini sebenarnya tertulis ‘Racun Dunia’ saja, padahal pada syair refreinnya jelas tertulis wanita racun dunia. Menarik juga pemilihan judul lagu ini dengan menghilangkan kata ‘wanita’nya. Walaupun tetap jujur dalam syair, tetapi apa sebenarnya alasan pemilihan judul? Biar orang semakin penasaran dengan lagu yang bergaya rock’n roll tahun 60an ini?

Disinilah secara nyata terlihat kegagalan generasi tua dalam menanamkan nilai2 budaya asli Indonesia yang sebenarnya adiluhung itu, kepada generasi muda. Memang tradisi, misalnya Jawa, mengenal perilaku negatif para lelaki yang dinamakan ‘molimo’ ( madat, madon, main, minum, maling ).
Pada masa sekarang, tentu kurang relevan, karena masalah gender sudah berkembang secara manusiawi dan proporsional. Dengan demikian The Chungcuters tidak perlu sungkan menulis judul “Wanita Racun Dunia”, masyarakat Indonesia sudah cukup dewasa untuk mau memahami, bahwa itu ‘just kidding’!

Sampai sekarangpun masih sering kita dengar, ungkapan godaan2, lagi2 khusus kepada lelaki, yaitu harta, tahta, wanita! Lagi2 wanita ditempatkan sebagai obyek, sementara laki2 sebagai subyek! Selama ungkapan2 ini dipahami secara dewasa, bahwa ada bagian2, khususnya masalah gender, dalam hal ini wanita, just kidding,tidak masalah! Tentunya tidak demikian bila penempatan wanita sebagai obyek dipahami secara primitif dan childish.

Pencekalan penampilan Dewi Persik di beberapa daerah oleh kepala daerahnya adalah contoh ketidakdewasaan segelintir lelaki, yang kebetulan penguasa. Setelah Tangerang, Bandung, Depok, Sukabumi dan Probolinggo, akankah kepala2 daerah tingkat II yang lain menyusul? Ya, untuk menjadi tidak dewasa? Semoga tidak! Karena ternyata masyarakat Indonesia, juga di jagad blogosphere, sudah dewasa! Nggak percaya? Silahkan sowan ke adik saya di blog Venus, dia akan berkata kepada para laki2 penguasa yang ke kanak2an itu, “hare gene! mbok ya wis ben, pak”!

Ya, kenapa harus khawatir dengan polah tingkah Dewi Persik, ataupun Tikabanget yang diblokir? Memangnya seberapa hebat sih Dewi Persik ato Tikabanget bisa menghancurkan moral bangsa? Bukankah mereka wanita2 kreatif menemukan kemapanan jati diri sebagai wanita mandiri, setara, dan lepas dari ketergantungan pada laki2 macam sampeyan itu?!

Hadwooh . . . wanita2, nasibmu wanita . . . . sini2 sama ebes aja! He3 . . . hare gene masih mau diperbudak laki2! Apakah para blogger cukup dengan memprihatinkannya saja? Paling tidak itulah maksud saya mengucapkan selamat hari Kartini kepada seluruh blogger2 wanita. Untuk wanita boru Siregar, eh keliru, wanita boru Siregar yang ini ding, met lewat ultah, tetap semangat bergumul dengan server!
Khususnya untuk anak gadis emak yang bebeberapa hari lagi ultah, kok sukanya ngikut2 sih, klo ada yang ngucapinnya kecepetan didenda aja, untuk mendidik menghargai wanita!

Bibi Vie, teristimewa ucapan ini untukmu, biarlah kami semua semakin memahami perjuangan wanita resiko tinggi yang kau jalani hari ini! Kami semua berdoa dan mencintaimu, kiranya kuasa tangan Tuhan sendiri yang menyentuh setiap usaha medis. Kecup manis untuk si mungil yang pertama pada kesempatan pertama, kiranya dua anak laki2 ini semakin memahami dan menghormati wanita!

Ada baiknya, sebelum memainkan lagu ini, untuk memahami lebih dulu nada dasarnya. Tidak seperti nada2 dasar yang lalu, kali ini nada dasarnya naik dua grip atau satu not dari C, sesuai nada dasar rekaman lagu ini. Kalau chord C naik ke chord D, anda sudah tahu ya cara mencari chord yang lain?
Selamat bermusik, dengan pemahaman kesetaraan gender, ato . . selamat hari Kartini!

Racun Dunia, The Changcuters
Intro: D… | D Bm (3x) G A

– – – -D – Bm – -D – Bm – D – Bm
(*) Racun – – Racun – -Racun…

– G – – – – – A – – – – – – – D
Mati laju darahku Memang kau racun

– -D – Bm – -D – Bm – D – Bm
Ampun – – Ampun – – Ampun…

– G – – – – – – -A – – G – – – – – – -A
Takluk sudah hebatku Takluk sudah hebatku

– – – – – – D – – D7 – G
Memang kau racun

– – Gm – – – D – – D7 – G – – – – -Gm – – – – A
Wanita racun dunia – – – – – Kar’na dia butakan s’mua

Kembali ke: (*)

Hilang akal sehatku Hilang akal sehatku

Hilang akal sehatku Memang kau racun

Wanita racun dunia

Wanita racun dunia Apa daya itu adanya… wooou…

Kembali ke: (*)

(**) Mati laju darahku Takluk sudah hebatku

Hilang akal sehatku Hilang akal sehatku

Memang kau racun…

Racun… (20x)

Cinta Ini Membunuhku! . . huh.. :(


kristinaAtas nama romantisme, kata cinta harus bersanding dengan kata bunuh! Judul sebuah lagu d’massive, memang fenomena baru di blantika musik Indonesia. Maka ketika lagu ini mengiringi penayangan kasus penyanyi dangdut Kristina dengan Al Amin Nur Nasution, kemarin, sebuah infotainmen televisi swasta merasa telah menemukan musik latar yang kuat memaknai berita tayangannya.
patung freddie mercury
Al Amin ditangkap KPK dengan tuduhan menerima suap. Apakah Rp.1,8 milyar itu dapat membunuh? “Yeah too much love will kill you, It’ll make your life a lie”, lho . . . . kok semakin membingungkan, atau mungkin maksudnya mabuk cinta, hidup dalam kebohongan, maut menjelang! Seakan justru potongan bait tadi mengkaunter, bukan “cinta” yang membunuh, tetapi “terlalu cinta”! Mungkin lebih jelas sekarang, segalanya yang terlalu, tanpa sadar selalu membawa kita pada pengertian yang salah. Lagu ‘too much love will kill you’, yang potongan baitnya ditulis tadi, diciptakan Brian May dengan kawan2, untuk sahabat tercinta mereka Freddie Mercury, yang ‘terbunuh’ HIV!
Masih penasaran dengan Freddie Mercury, tentu saja kawan saya mercuryfalling ini adalah alamat yang tepat untuk curhat! lho . . ?!

Untuk peringatan ancaman maut, tidak ada kata terlambat! Justru Brian May menciptakan lagu itu, karena cintanya pada Freddie Mercury, dan tentu saja bagi semua pecinta musik. Ya, pecinta musik, klo anda bukan pecinta musik, lha kapan dengarnya lagu itu, apa lagi baca syairnya. Bahwa kematian adalah keniscayaan, tentu ironis bila karena salah memahami cinta.

Nyaris tak terduga, bila d’massive, Rian (vokal), Kiki (gitar), Rama (gitar), Why (drum), dan Rai (bass), ternyata berguru pada Giring! Tentu yang dipelajari adalah penampilan, bukan konten lagu tematif yang lagi dicobakan oleh d’massive ini. Emak mencirikan lagu manis bila pada nada dasar C, terdapat chord A, anda bisa mencari dan merasakan sendiri, mengapa lagu ini manis pada syair yang ‘membunuh’. Tentu saja itu akan mendasari perdebatan anda menilai musik Indonesia, dan dasar semacam inilah yang membuat anda semakin memahami musik secara utuh, baik makna syair, melodi maupun harmoni!


Cinta Ini Membunuhku, d’massive

Do = C

– – C – – – – – Am
kau membuat kuberantakan
– – C – – – – – – Am
kau membuat ku tak karuan
– – Dm – – – – – – A#
kau membuat ku tak berdaya
– – – G – – – – – – – G7
kau menolakku acuhkan diriku

bagaimana caranya untuk
meruntuhkan kerasnya hatimu
kusadari ku tak sempurna
ku tak seperti yang kau inginkan

Reff :
– – – -C – – – – – – – – – Em
kau hancurkan aku dengan sikapmu
– – – A – – – – – – – – – -Dm
tak sadarkah kau telah menyakitiku
– – – Fm – – – – – Em – Am
lelah hati ini meyakinkanmu

– -Dm – – – -G7
cinta ini membunuhku – – ( I )

– -Dm – – G7 – – Fm C
cinta ini membunuhku – – ( II )

Jangan Lupakan, Nidji



Memang Giring dan kawan2, yang bergabung dalam Nidji ini, perlu diperhitungkan! Dalam perjalanan kesenangan menikmati lagu, terkadang memang demikian banyak keindahan musik terlewatkan begitu saja. Seringkali subyektivitas, emosional menutupi keterbatasan kemanusiaan memahami musik. Apakah bukan keindahan yang kita lihat dari foto diatas, hanya dengan naif bertanya, lho Giring dengan bayi? Ketika anak gadis emak mengucapkan “Jangan Lupakan”, Nidji, disusul dengan si ratu gothic, stey, rasanya mengingatkan, bagaimanapun cara menikmati musik, masih banyak keindahannya yang terlewatkan.

Ketika “Jangan Lupakan” di upload, keniscayaanyapun segera tampak, dalam hitungan menit, perempuan2 ini mengakui . . . ya, Jangan Lupakan, Nidji. Kitapun tersadar, untuk tidak melupakan bahwa perempuan berhak menentukan seleranya sendiri! Pilihan perempuan selalu menarik, namun tidak untuk membunuh aspirasi, inpirasinya. Kenapa pilihan jalan hidup Dewi Persik dihadang? Bukankah pilihan Narji Cagur (bukan Nidji.. 😛 ) menikahi pramugari adalah suatu kebahagiaan dan keberuntungan? Jadi . . . ya “jangan lupakan“,bahwa setiap wanita berhak memilih kekasih hatinya sendiri, se-mbeling apapun . . . ,ya git!
bahwa ternyata Nidji merupakan penyempurnaan nama dari kata NIJI yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti pelangi, hmmmmmmmm . . warna warni dengan kecantikannya masing2 . . . semoga tidak semakin membingungkan laki . . . . , sementara bingung sendiri merupakan hak . . 😛

Jangan Lupakan“? enjoykan ajah . . . . . . . . . . . !

Jangan Lupakan, Nidji

Do = C
C – – – – – – – – – – – F – – – – G

ku berjalan terus tanpa henti
– – – – – – – – – – – C

dan dia pun kini telah pergi
– – – – – – – – – -F – – – – – – – G

ku berdoa di tengah indahnya dunia
– – – – – – – – Am – – – – – – D

ku berdoa untuk dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan

– – – – – – F – – – C

would it be nice to hold you ..
– – – – – – F – – – C

would it be nice to take you home..
– – – – – – F – – – Am – – – – – – G

would it be nice to kiss you..

memohon untuk tetap ptinggal
dan jangan engkau pergi lagi
bernyanyilah na na na na na
bernyanyilah untuk dia yang kurindukan

would it be nice to hold you ..
would it be nice to take you home ..
would it be nice to kiss you..

jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku